Fi’il Menurut Ma’mulnya

(Hlm. 78-80)

Fi’il menurut ma’mulnya terbagi menjadi 2 bagian: lazim dan muta’addi.

Fi’il Lazim

Fi’il lazim adalah setiap fi’il yang cukup dengan fa’ilnya, tidak membutuhkan kepada maf’ul bih.

Contoh:

قَامَ زَيدٌ – حَضَرَ عَمْرٌو – جَلَسَ الرَّجُلُ

 

Fi’il Muta’addi

Fi’il muta’addi adalah setiap fi’il yang tidak cukup dengan fa’ilnya tetapi membutuhkan maf’ul bih, satu atau lebih.

Contoh:

حَسِبْتُ الْمَجْدَ سَهْلَ الْمَنَالِ

Aku menyangka kemuliaan itu mudah diraih.

Fi’il-fi’il yang Menashabkan Dua Maf’ul

Fi’l-fi’il yang menashabkan dua maf’ul, ada dua janis:

  1. Fi’il-fi’il yang menashabkan dua maf’ul, asal keduanya adalah mubtada’ dan khabar.

Fi’il-fi’il ini adalah:

Af’al zhan:

ظَنَّ – خَالَ – حَسِبَ – زَعَمَ – جَعَلَ – هَبْ

Menyangka – Menyangka – Menyangka – Menyangka – Menyangka – Sangkalah.

Af’al yaqin:

رَأَى – عَلِمَ – وَجَدَ – أَلْفَى – تَعَلَّمْ

Melihat – Mengetahui – Mendapati – Mendapati – Ketahuilah.

Af’al tahwil:

صَيَّرَ –حَوَّلَ – جَعَلَ – رَدَّ – اِتَّخَذَ – تَخِذَ

Menjadikan – Merubah – Menjadikan – Mengembalikan – Menjadikan – Menjadikan.

Contoh:

ظَنَنْتُ الرَّجُلَ نَائِمًا

Aku menyangka lelaki itu tidur.

رَأَيْتُ الِّصَّ هَارِبًا

Aku melihat pencuri itu melarikan diri.

وَجَدَ السَّائِرُ الطَّرِيقَ وَعَرًا

Pengguna jalan itu mendapati jalan itu bergelombang.

صَيَّرَ الصَّنَّاعُ الْقُطْنَ نَسِيجًا

Pengrajin itu menjadikan kapas tersebut menjadi kain.

  1. Fi’il-fi’il yang menashabkan dua maf’ul, asal keduanya bukan mubtada’ dan khabar.

Fi’il-fi’il ini adalah:

كَسَى – أَلْبَسَ – أَعْطَى – مَنَحَ – سَأَلَ – مَنَعَ

Memakai – Memakaikan – Memberikan – Memberikan – Meminta – Menolak.

Contoh:

أَلْبَسَ الرَّبِيعُ الأَرْضَ حُلَّةً زَاهِيَةً

Musim gugur menyelimuti bumi dengan perhiasan yang indah.

Memuta’addikan Fi’il

a. Fi’il tsulatsi lazim terkadang bisa menjadi muta’addi ke satu maf’ul bih dengan menambahkan hamzah pada awalnya atau dengan mentasydid huruf yang ke dua.

Contoh:

نَجَا الصِّدْقُ

Kejujuran telah selamat.

أَنْجَى الصِّدْقُ صَاحِبَهُ

Kejujuran menyelamatkan orang yang jujur.

نَجَّى الصِّدْقُ صَاحِبَهُ

Kejujuran menyelamatkan orang yang jujur.

Sebagaimana juga fi’il tsulatsi lazim menjadi muta’addi dengan menambahkan alif setelah huruf pertama yang dinamakan alif mufa’alah.

Contoh:

جَلَسَ مُحَمَّدٌ

Muhammad telah duduk.

جَالَسَ مُحَمَّدٌ الْأَخْيَارَ

Muhammad duduk-duduk bersama orang-orang baik.

b. Fi’il tsulatsi muta’addi ke satu maf’ul terkadang menjadi muta’addi ke dua maf’ul dengan menambahkan hamzah atau tasydid.

Contoh:

فَهِمَ الطَّالِبُ الدَّرْسَ

Pelajar itu paham pelajaran itu.

أَفْهَمْتُ الطَّالِبَ الدَّرْسَ

Aku memahamkan pelajaran ini ke pelajar itu.

فَهَّمْتُ الطَّالِبَ الدَّرْسَ

Aku memahamkan pelajaran ini ke pelajar itu.

c. Sebagian fi’il muta’addi ke dua maf’ul terkadang menjadi muta’addi ke tiga maf’ul dengan menambahkan hamzah atau tasydid.

Fi’il-fi’il yang muta’addi ke tiga maf’ul jumlahnya ada 7, yaitu:

أَعْلَمَ  – أَرَى – أَنْبَأَ – خَبَّرَ – أَخْبَرَ – حَدَّثَ

Menmberitahu – Memperlihatkan – Memberitahu – Memberitahu – Memberitahu – Memberitahu.

Contoh:

أَعْلَمْتُ عَلِيًّا الْخَبَرَ صَحِيحًا

Aku memberitahu Ali bahwa berita itu benar.

أَنْبَأْتُ عَبْدَ اللهِ زَيْدًا مُسَافِرًا

Aku memberitahu Abdullah bahwa Zaid safar.