Amalnya Mashdar

(Hlm. 35-36)

7. Amalnya Mashdar

Mashdar bisa beramal seperti amal fi’ilnya, yaitu merafa’kan fa’il atau menashabkan maf’ul bih. Mashdar ini bisa beramal seperti fi’il pada dua tempat:

– Menggantikan fi’il, contoh:

تَرْكًا الْإِهْمَالَ

Artinya:

 اُتْرُكِ الْإِهْمَالَ

Tinggalkanlah kesia-siaan!

(الْإِهْمَالَ : Maf’ul bih bagi mashdar, manshub dengan fathah)[1]

– Bisa disiratkan oleh ( أَنْ + fi’il) atau ( مَا + fi’il)[2]

Contoh:

عَجِبْتُ مِنْ شُرْبِ زَيْدٍ الْعَسَلَ

Aku kagum kepada minum madunya Zaid.

(Bisa kita letakkan ( أَنْ + fi’il) pada posisi mashdar, kemudian kita katakan:

عَجِبْتُ مِنْ أَنْ يَشْرَبَ زَيْدٌ الْعَسَلَ

( اَلْعَسَلَ ) diirab sebagai maf’ul bih bagi mashdar)

Catatan:

Seringkali mashdar diidhafahkan kepada fa’ilnya dan setelahnya adalah maf’ul bih manshub, sebagaimana pada contoh yang lewat.

Secara lafadz fa’il majrur sedangkan secara kedudukan marfu’.

( عَجِبْتُ : Fi’il madhi mabni, Ta’ adalah fa’il – مِنْ : Huruf jar – شُرْبِ : Mashdar majrur dengan ( مِنْ ) – زَيْدٍ : Fa’il bagi mashdar (شُرْبِ ), majrur secara lafadz, marfu’ secara kedudukan – اَلْعَسَلَ : Maf’ul bih bagi mashdar, manshub dengan fathah)[3]

[1] Pada kondisi seperti ini, sebenarnya maf’ul bih manshub oleh fi’il yang dihapus, adapun mashdar dii’rab sebagai maf’ul mutlaq. Asalnya:

اُتْرُكِ الْإِهْمَالَ تَرْكًا

Lihat pembahasan tentang maf’ul mutlaq di juz pertama.

[2] Semua mashdar muawwal bisa ditakwilkan kepada mashdar sharih. Lihat pembahasan Mashdar Muawwal.

[3] Untuk mengamalkan mashdar seperti fi’il ada 8 syarat:

  1. Bisa ditakwil menjadi mashdar muawwal,
  2. Tidak ditashgir. Maka tidak boleh mengatakan:

أَعْجَبَنِي ضُرَيْبُكَ زَيْدًا

  1. Tidak berbentuk dhamir. Maka tidak boleh mengatakan:

ضَرْبِي زَيدًا حَسَنٌ وَهُوَ عَمْرًا قَبِيحٌ

Pukulanku kepada Zaid bagus dan kepada Amr jelek.

  1. Tidak diberi keterangan kuantitas (mashdar marrah). Maka tidak boleh mengatakan:

أَعْجَبَنِي ضَرْبَتُكَ زَيْدًا

Mengagumkan aku satu pukulanmu kepada Zaid.

  1. Sebelum beramal tidak boleh disifati. Maka tidak boleh mengatakan:

أَعْجَبَنِي ضَرْبُكَ الشَّدِيدُ زَيدًا

Mengagumkan aku pukulanmu yang keras kepada Zaid.

  1. Tidak dihapus. Maka tidak boleh mengatakan:

مَا لَكَ وَزَيدًا

Tersiratnya adalah:

مَا لَكَ وَمُلَابَسَتَكَ زَيدًا

  1. Antara mashdar dengan maf’ul tidak dipisah oleh selain jar wa majrur atau zharaf.

Sebagaimana contoh nomer 5.

  1. Maf’ul tidak boleh di depan mashdar. Maka tidak boleh mengatakan:

أَعْجَبَنِي زَيدًا ضَرْبُكَ

Bentuk susunan mashdar ini ada 4:

  1. Mashdar sebagai mudhaf, mudhaf ilaihnya adalah fa’il. Sebagaimana dalam contoh yang telah lewat. Ini adalah bentuk yang paling banyak.
  2. Mashdar sebagai mudhaf, mudhaf ilaihnya adalah maf’ul. Contoh:

أَعْجَبَنِي ضَرْبُ زَيدٍ مُحَمَّدٌ

Mengherankan aku Muhammad memukul Zaid

  1. Mashdar sendirian tanpa ( ال  ). Contoh:

أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَومٍ ذِي مَصْغَبَةٍ يَتِيمًا}}

  1. Diberi ( ال ). Contoh:

عَجِبْتُ مِنَ الضّرْبِ زَيدًا

Aku heran kepada pemukulan kepada Zaid itu.

(Syarah Qathrun Nada, hlm. 351-361)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s