Daftar Fi’il Tsulatsi Dalam Bahasa Arab dan Harakat Mudhari’nya Serta Mashdar dan Sebagian Musytaqnya

(Hlm. 127-130)

Mukdimah

Fi’il dalam bahasa arab bisa jadi 3 huruf, 4 huruf, 5 huruf atau 6 huruf.

  1. Fi’il-fi’il ruba’i, khumasi, dan sudasi berlaku padanya kaidah-kaidah yang telah ditetapkan dalam hal mudhari’nya dan berdasarkan wazan-wazan qiyasi pada pembentukan mashdar dan musytaq-musytaqnya.

– Kaidah khusus bagi harakat fi’il mudhari’: semua fi’il ruba’I, apakah itu mujarrad atau mazid, maka mudharinya selalu didhammahkan huruf mudhara’ahnya dan huruf sebelum terakhir dikasrahkan.

Contoh:

يُدَحْرِجُ – يُكْرِمُ – يُطَارِدُ – يُقَدِّمُ

Fi’il khumasi dan sudasi diawali dengan hamzah washal atau ta’ tambahan dan mudhari’nya selalu difathahkan huruf mudhara’ahnya. Apabila didahului hamzah washal, maka mudhari’nya huruf sebelum terakhir dikasrahkan (kecuali apabila berwazan اِفْعَلَّ dan اِفِعَالَّ ).

Contoh:

يَنْطَلِقُ – يَقْتَرِبُ – يَسْتَقْبِلُ – يَغْرَوْرِقُ – يَقْشَعِرُّ – يَحْرَنْجِمُ

Apabila didahului ta’ tambahan atau berwazan اِفْعَلَّ dan اِفِعَالَّ, maka mudhari’nya difathahkan huruf sebelum terakhir.

Contoh:

يَتَقَدَّمُ – يَتَدَارَكُ – يَتَبَعْثَرُ – يَحْمَرُّ – يَحْمَارُّ

– Kaidah khusus dalam membentuk mashdar, semua fi’il ruba’i, khumasi dan sudasi mashdarnya qiyasi (telah lewat penjelasnya pada pasal ke 5 bab ke dua di bawah judul isim makna dan mashdar).

– Kaidah khusus dalam membentuk mustaq-musytaq, fi’il-fi’il suba’i, khumasi dan sudasi tidak mempunyai musytaq kecuali isim fa’il, isim maf’ul, isim zaman dan isim makan. Wazan-wazannya qiyasi, bahkan wazan isim zaman dan makan sama seperti wazan isim maf’ul.

(Telah lewat penjelasan hal tersebut pada pasal ke 5 bab ke dua di bawah judul isim musytaq)

  1. Fi’il-fi’il tsulatsi tidak mempunyai kaidah khusus untuk harakat mudhari’, bentuk mashdar dan musytaq-musytaqnya, akan tetapi mudhari’ dan bentuk mashdar dan musytaq-musytaqnya ada bentuk yang beragam, tidak ada kaidah pasti, tetapi hanya diketahui dengan sama’ dan merujuk ke kitab bahasa.

– Berkaitan dengan kaidah penentuan fi’il mudhari’, maka tidak didapati kaidah yang pasti tentanh hal tersebut. Fi’il-fi’il tsulatsi yang berwazan فَعَلَ mudhari’nya dari 3 bab (bab: نَصَرَ : يَنْصُرُ – bab ضَرَبَ : يَضْرِبُ dan bab فَتَحَ : يَفْتَحُ) dan fi’il tsulatsi yang berwazan فَعِلَ mudharinya ada 2 bab (bab فَرِحَ : يَفْرَحُ dan bab حَسِبَ : يَحْسِبُ). Fi’il berwazan فَعُلَ mudhari’nya ada satu bab (bab كَرُمَ : يَكْرُمُ)

(Lihat pasal ke dua bab ke tiga)

– Berkaitan dengan bentuk mashdar, maka mashdar fi’il tsulatsi tidak mempunyai kaidah yang satu, walaupun ada wazan-wazan yang dominan dalam pembentukan sebagiann mashdar (Lihat pasal ke lima bab ke dua juz ke dua).

– Berkaitan dengan bentuk isim-sim musytaq, maka fi’il tsulatsi bisa dibuat 7 isim musytaq, yaitu: isim fa’il (shighah mubalaghah), isim maf’ul,shifah musyabbahah, isim tafdhil, isim zaman, isim makan dan isim alat. Sebagian isim musytaq dibentuk dengan wazan qiyasi dan sebagian yang lain dengan wazan sama’i. (lihat pasal ke lima bab ke dua).

Bagi semua keterangan yang lewat maka kami ketengahkan berikut ini daftar sebagian besar fi’il mu’rab tsulatsi lengkap dengan harakat mudhari’nya dan bentuk mashdar serta sebagian musytqnya.

 

Catatan:

Perlu diperhatikan berkenaan dengan daftar yang akan disebutkan berikut ini:

  1. Tekah diketahui bahwa fi’il –menurut ma’mulnya- bisa jadi lazim (yaitu cukup dengan fa’ilnya tanpa membutuhkan maf’ul bih) atau muta’addi (yaitu memutuhkan maf’ul bih satu atau lebih).

Telah kami ketengahkan fi’il-fi’il lazim, baik itu sendirian (contoh: أَتَى dan ثَارَ) atau dibarengi oleh fa’il (contoh: كَرُمَ فُلَانٌ dan شَبَّ الْحَرِيقُ) atau dibarengi jar wa majrur (contoh: أَسِفَ عَلَيهِ وَلَهُ, نَأَى عَنْهُ …).

Adapun fi’il-fi’il muta’addi, maka kami ketengahkan dengan diikuti maf’ulnya, sama saja apakah isim manshub (contoh: قَرَأَ الْكِتَابَ, وَصَفَ الشَّيءَ) atau alah satu dhamir dari dhamir-dhamir nashab (contoh: رَآهُ, طَرَدَهُ, مَدَحَهُ).

  1. Kami jelaskan pada samping setiap fi’il, maknanya. Apabila fi’il mempunyai lebih dari satu makna, maka kami cukupkan dengan menampakkan makna yang paling banyak digunakan.
  2. Setelahnya kami datangkan mudhari’ bagi setiap fi’il dengan memberi harakat, kemudian mashdar. Apabila fi’il mempunyai beberapa mashdar, maka kami cukupkan dengan menyebutkan dua atau tiga saja.
  3. Kami ketengahkan di ujungnya sebagian musytaq setiap fi’il dengan memfokuskan kepada sifat yang umum bagi isim fa’il (shighah mubalaghah) dan shifah musyabbahah bismil fa’il.