Dua Ketentuan Fi’il Majhul

(Hlm. 50-51)

9. Tidak disyaratkan untuk memposisikan naibul fa’il setelah fi’il secara langsung, akan tetapi bisa dipisahkan oleh satu pemisah atau lebih.

Contoh:

يُقْصَدُ بِالْأَجْرِ كُلُّ مَا يُعْطَى لِلْعَامِلِ لِقَاءَ عَمَلِهِ

Upah maksudnya adalah semua yang diberikan untuk pekerja sebagai imbalan atas pekerjaannya.

(يُقْصَدُ : Fi’il mudhari’ mabni lil majhul – بِالأَجْرِ : Jar wa majrur – كُلُّ : Naibul fa’il marfu’ dengan dhammah)

10. Pada asalnya naibul fa’il terletak setelah fi’il majhul, tetapi isim maf’ul bisa juga beramal sebagaimana amalnya fi’il majhul, sehingga isim maf’ul memarfu’kan naibul fa’il.[1]

Contoh:

اِسْتَقَالَ العَامِلُ المَطْلُوبُ نَقْلُهُ

Pekerja yang dituntut untuk dimutasikan itu meminta pengunduran diri.

(نَقْلُهُ : Naibul fa’il bagi isim maf’ul المَطْلُوبُ )

[1] Penjelasan lebih lengkap terdapat di juz ke dua kitab ini bab ‘Amal Isim Maf’ul.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s