Difathahkannya Hamzah Inna

(Hlm. 42-43)

  1. Hamzah inna difathahkan apabila isim dan khabarnya bisa dirubah menjadi mashdar[1]. Pada keadaan ini maka harus didahului oleh kalimat.

Contoh:

سَرَّنِي أَنَّكَ نَجَحْتَ

Engkau berhasil, menyenangkan aku.

Bisa juga dikatakan:

سَرَّنِي نَجَاحُكَ

Keberhasilanmu menyenangkan aku.

أَتَمَنَّى أنَّ القَمَرَ طَالِعٌ

Aku berangan-angan bulan akan muncul.

Bisa juga dikatakan:

أَتَمَنَّى طُلُوعَ القَمَرِ

Aku berangan-angan munculnya bulan.

عَجِبْتُ مِنْ أَنَّكَ قَائِمٌ

Aku heran kamu berdiri.

Bisa juga dikatakan:

عَجِبْتُ مِنْ قِيَامِكَ

Aku heran atas berdirimu.

(Secara sempurna penjelasan tentang mashdar terdapat pada juz ke dua kitab ini)

8. Lam yang difathah boleh masuk ke khabar inna dan memberi faidah penegasan.

[1] Lihat pembahasan mashdar muawwal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s