Bentuk-bentuk Fi’il Majhul

(Hlm. 47-48)

  1. Fi’il ada yang muta’addi (mempunyai satu maf’ul bih atau lebih) dan ada yang lazim (tidak mempunyai maf’ul bih).

a. Apabila fi’il mempunyai satu maf’ul bih dan fa’ilnya telah dihapus maka maf’ul bih dimarfu’kan sebagai naibul fa’il sebagaimana dalam contoh yang telah lewat.

b. Apabila fi’il mempunyai lebih dari satu maf’ul bih dan fa’ilnya sudah dihapus maka maf’ul bih yang pertama dimarfu’kan sebagai naibul fa’il sedangkan maf’ul bih yang lain tetap manshub.

Contoh:

أُعْطِيَ النَّاجِحُ جَائِزَةً

Pemenang itu telah diberi hadiah.

( النَّاجِحُ : Naibul fa’il marfu’ dengan dhammah –  جَائِزَةً : Maf’ul bih manshub dengan fathah)

Asal kalimatnya adalah:

أَعْطَى المُعَلِّمُ النَّاجِحَ جَائِزَةً

Guru itu telah memberi pemenang itu hadiah.

Ketika fa’il dihapus ( المُعَلِّمُ) maka maf’ul bih pertama yaitu: النَّاجِحَ menempati posisinya dan maf’ul bih kedua (yaitu جَائِزَةً) tetap manshub.

c. Apabila fi’ilnya lazim, fa’ilnya dihapus dan fi’il dibuat majhul, maka naibul fa’il boleh berupa mashdar, zharaf mutasharrif[1] atau jar wa majrur.

Contoh:[2]

يُتَنَزَّهُ فِي الْحَدَائِقِ

Berwisata di taman-taman.

(فِي الْحَدَائِقِ : Jar wa majrur sebagai naibul fa’il)

Asal kalimatnya:

يَتَنَزَّهُ النَّاسُ فِي الحَدَائِقِ

Masyarakat berwisata di taman-taman.

Ketika fa’ilnya yaitu: النَّاسُ dihapus dan fi’ilnya dibuat majhul maka jar wa majrur menjadi naibu fa’il.[3]

[1] Pengertian zharaf mutasharrif  terdapat di bab maf’ul fih.
[2] Ini adalah contoh jar wa majrur.
[3] Contoh mashdar:

جُلِسَ جُلُوسٌ وَاحِدٌ

Telah duduk satu kali duduk.
Khusus mashdar disyaratkan harus disifati, diidhafahkan atau dima’rifahkan.
Contoh zharaf mutasharrif:

صِيمَ رَمَضَانُ

Berpuasa ramadhan.
Apabila suatu fi’il mempunyai maf’ul bih, maka ketika fi’il dibuat majhul, naibul fa’il harus dari maf’ul bih, bukan yang lain.
(Al Kawakib ad Durriyyah, hlm. 173-175)

 

Iklan

Definisi Naibul Fail

(Hlm. 47)

  1. Naibul Fail adalah isim marfu’ yang terletak setelah fi’il majhul dan menempati posisi fa’il yang telah dihapus. Dihapusnya fa’il bisa karena fa’il sudah maklum diketahui atau karena belum diketahui atau karena takut kepada fa’il atau karena mengkhawatirkan fa’il.

Contoh:

هُزِمَ العَدُوُّ

Musuh itu telah dikalahkan.

(العَدُوُّ : Naibul fa’il marfu’ dengan dhammah)

Asal mula kalimatnya adalah:

هَزَمَ جَيْشُنَا العَدُوَّ

Pasukan kami telah mengalahkan musuh itu.

Ketika fa’il (جَيشُنَا) dihapus karena sudah diketahui maka fi’il dibuat menjadi majhul dan maf’ul bih menempati posisi fa’il dan dinamakan naibu fa’il.

Fa’il Bagi Selain Fi’il

(Hlm. 46-47)

10. Pada asalnya fa’il terletak setelah fi’il, sebagaimana contoh-contoh yang telah lewat. Hanya saja mashdar, isim fa’il atau shifah musyabbahah masing-masingnya bisa beramal seperti amalnya fi’il, yaitu merafa’kan fa’il.[1]

Contoh:

جَاء الرَّجُلُ الفَاضِلُ أَخُوهُ

Telah datang lelaki yang mulia saudaranya.

(أَخُو : Fa’il bagi isim fa’il: الفَاضِلُ)

دَخَلْتُ بُسْتَانًا جَمِيلًا مَنْظَرُهُ

Aku memasuki kebun yang indah pemandangannya.

(مَنْظَرُ : Fa’il bagi shifah musyabbahah جَمِيلًا)

Akan datang penjelasan hal tersebut secara rinci pada pembahasan isim-isim musytaq di juz ke dua dari kitab ini.

[1] Penjelasan lebih lengkap terdapat di juz ke dua kitab ini bab ‘Amal Isim Fa’il, ‘Amal Mashdar, ‘Amal Syifah Musyabbahah, ‘Amal shighah Mubalaghah, dan ‘Amal Isim Tafdhil. Juga bab isim fi’il di juz pertama.

Cara Mencari Fa’il

(Hlm. 46)

  1. Harus diperhatikan bahwa di mana pun dalam kalimat ada fi’il ma’lum maka mesti ada fa’il bagi fi’il tersebut.[1]

Fa’il tersebut bisa dikenali dengan meletakkan pertanyaan “Siapa?” (bagi yang berakal) atau “Apa?” (bagi yang tidak berakal) sebelum fi’il dalam bentuk ghaib mufrad, sehingga jawabannya adalah fa’il.

Contoh:

تَكَلَّمَ الخَطِيبُ بِشَجَاعَةٍ

Khatib itu berbicara dengan berani.

(مَنْ تَكَلَّمَ؟)

(Siapa yang berbicara?)

Jawabannya:

الخَطِيبُ

Maka الخَطِيبُ adalah fa’il.

حَضَرَ المُؤْتَمَرَ أَرْبَعُونَ مَندُوبًا

Telah menghadiri muktamar itu empat puluh undangan.

(مَنْ حَضَرَ؟)

(Siapa yang hadir?)

Jawabannya:

أَرْبَعُونَ

Empat puluh.

Maka  أَرْبَعُونَ adalah fa’il.

أُوَافِقُ عَلَى هذَا الرَّأْيِ

Aku setuju dengan pendapat ini.

(مَنْ يُوَافِقُ؟)

(Siapa yang setuju?)

Jawabannya:

Dhamir yang tersirat yaitu  أَنَا – Maka fa’ilnya adalah dhamir mustatir tersiratnya  أَنَا.

تَقَرَّرَ تَأْجِيلُ النَّتِيجَةِ

Diputuskan untuk menunda penetapan hasil ujian.

(مَا تَقَرَّرَ؟)

(Apa yang diputuskan?)[2]

Jawabannya:

تَأْجِيلُ النَّتِيجَةِ

Maka تَأْجِيلُ النَّتِيجَةِ adalah fa’il.

[1] Apabila fi’ilnya tam, tetapi apabila naqish atau tambahan tidak ada fa’il.
[2] Makna secara Bahasa Indonesia memang pasif (majhul), tetapi secara Bahasa Arab tetap aktif (ma’lum). Dalam kitab tashrif, hal ini masuk ke kaidah muthawa’ah.

Fa’il Terpisah dari Fi’il

(Hlm. 45-46)

  1. Tidak disyaratkan fa’il harus berada setelah fi’il secara langsung tetapi boleh dipisah oleh satu pemisah atau lebih.

Contoh:

أَعْجَبَنِي فِي الْحَدِيقَةِ أَزْهَارُهَا

Bunga-bunga di kebun itu mengagumkan aku.

( أَزْهَارُ : Fa’il bagi أَعْجَبَ, marfu’ dengan dhammah)

Sering juga maf’ul bih terletak di depan fa’il sehingga memisahkan antara fa’il dan fi’il.

Contoh:

يَجْنِي القُطْنَ الفَلَّاحُ

Petani itu menuai kapas.

( القُطْنَ : Maf’ul bih manshub dengan fathah –  الفَلَّاحُ : Fa’il marfu’ dengan dhammah)

Akan datang pembahasan hal ini pada pembahasan maf’ul bih.

Boleh Memberi Tanda Ta’nits

(Hlm. 45)

  1. Boleh memberi tanda ta’nits:

a. Apabila fa’il berupa muannats haqiqi dan terpisah dari fi’ilnya[1].

Contoh:

سَافَرتْ أَمْسِ فَاطِمَةُ

Atau:

سَافَرَ أَمْسِ فَاطِمَةُ

Fatimah telah safar kemarin.

Apabila pemisahnya إلَّا maka lebih baik fi’il tanpa ta’.

Contoh:

مَا نَالَ الجَائِزَةَ إِلّا الفَائِزَةُ

Tidak memperoleh hadiah kecuali wanita yang menang itu.

b. Apabila fa’il berupa isim zhahir  muannats majazi[2].

Contoh:

تَطْلُعُ الشَّمْسُ

Atau:

يَطْلُعُ الشَّمْسُ

Matahari sedang/akan terbit.

c. Apabila fa’il berupa jama’ taksir[3].

Contoh:

حَضَرَتِ القُضَاةُ

Atau:

حَضَرَ القُضَاةُ

Para hakim telah hadir.

[1] Memberi tanda ta’nits lebih utama. (Syarah Syudzur adz Dzahab, hlm.165)
[2] Memberi tanda ta’nits lebih utama. (Syarah Syudzur adz Dzahab, hlm.165)
[3] Mufradnya mudzakkar atau muannats. Memberi tanda ta’nits lebih utama. (Syarah Syudzur adz Dzahab, hlm.166)