Saudara-saudara Inna

(Hlm. 39-40)

2. Saudara-saudara Inna yaitu:

– إِنَّ

Untuk Penegasan.

Contoh:

إَنَّ الْمُجِدَّ نَاجحٌ

Sesungguhnya orang yang rajin akan sukses.

– أَنَّ

Untuk penegasan dan harus didahului oleh kalimat.

Contoh:

يُسْعِدُنِي أَنَّ الصِّنَاعَةَ مُتَقَدِّمَةٌ فِي بَلَدنَا

Menyenangkan aku kemajuan industri di negeri kami.

– كَأَنَّ

Untuk penyerupaan apabila khabarnya jamid dan untuk sangkaan apabila khabarnya musytaq.

Contoh:

كَأَنَّ مُحَمَّداً أَسَدٌ

Muhammad seperti singa. (Untuk penyerupaan)

كَأَنَّكَ فَاهِمٌ

Sepertinya kamu paham.(Untuk sangkaan)

– لكِنَّ

Untuk susulan, yaitu menetapkan hukum yang menyelisihi hukum sebelumnya. Oleh sebab inilah لكِنَّ  harus didahului oleh kalimat.

Contoh:

الكِتَابُ صَغِيرٌ لكِنَّهُ مُفِيدٌ

Kitab ini kecil tapi bermanfaat.[1]

مَا هَذا أَبْيَضُ لكِنَّهُ أَسْوَدُ

Ini bukan putih tapi hitam.

– لَعَلَّ

Untuk harapan, yaitu menunggu sesuatu yang tidak pasti terjadinya.

Contoh:

لَعَلَّ الجَوَّ مُعْتَدِلٌ غَداً

Semoga cuaca besok cerah.

Sering lam pertama dibuang sehinga kita katakan (( عَلَّ ))

Contoh:

عَلَّ الفَرَجَ قَرِيبٌ

Semoga jalan keluar ada sebentar lagi.

– لَيْتَ

Untuk angan-angan, yaitu menyukai terjadinya sesuatu.[2]

Contoh:

لَيْتَ المُسَافِرَ قَادِمٌ

Seandainya musafir itu kembali.

لَيْتَ النَّتِيجَةَ حَسَنَةٌ

Seandainya nilainya bagus.

Apabila (لَيْتَ) bersambung dengan ya’ mutakallim maka ia bersambung dengan nun yang dinamakan nun wiqayah.

Contoh:

لَيْتَنِي سَعِيدٌ

Seandainya aku bahagia.

– لَا

Untuk penafian.[3]

Contoh:

لَا سُرُورَ دَائِمٌ

Tidak ada kebahagiaan yang terus-menerus.

Huruf  لَا ini mempunyai penggunaan yang bermacam-macan. Akan kami jelaskan pada bab ke tiga, khusus tentang huruf.

[1]Karena apabila kitabnya kecil biasanya kurang bermanfaat, tetapi ternyata bermanfaat.
Tidak boleh:

اَلْكِتَابُ كَبِيرٌ لكِنَّهُ مُفِيدٌ

Kitab ini besar tetapi bermanfaat.
[2] Definisi yang diberikan penulis di sini terbalik, seharusnya:

– لَعَلَّ

Untuk raja’/tarajji (harapan), yaitu menunggu sesuatu yang disenangi atau untuk tawaqqu’ (kasihan dan takut), yaitu menunggu sesuatu yang tidak disenangi.
Contoh untuk tarajji:

لَعَلَّ زَيدًا قَادِمٌ

Semoga Zaid datang.
Contoh untuk tawaqqu’:

لَعَلَّ عَمْرًا هَالِكٌ

Jangan-jangan Amr meninggal.

– لَيْتَ

Untuk tamanni (angan-angan), yaitu menginginkan sesuatu yang tidak terjadi, bisa jadi karena sulit terjadi atau tidak mungkin terjadi.
Contoh yang sulit terjadi, perkataan orang miskin yang tidak mampu mencari uang dan tidak mempunyai pekerjaan:

لَيتَ لِي مَالًا فَأَحُجَّ

Seandainya aku punya harta sehingga aku bisa naik haji.
Contoh yang tidak mungkin terjadi:

لَيتَ الشَّبَابَ يَعُودُ

Seandainya masa muda kembali lagi.
( Al Kawakib ad Durriyyah, hlm. 253)
[3] Namanya لا nafiyah lil jinsi. Lihat pembahasan لا nafiyah lil jinsi pada isim manshub.

 

 

Iklan

4 respons untuk ‘Saudara-saudara Inna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s